ALBANI DAN KESESATANYA
Posted on by Al-Haqir Mahfuz Muhammad Al-Khalil


(KOMEN SHEIKH MAHMUD SA’EED MAMDUH : ALBANI TELAH MEMBAWA BUDAYA DARI ATAS KEBAWAH SEDANGKAN APA YANG SEWAJARNYA BUDAYA DARI BAWAH KE ATAS.BUDAYA INI JUGA MEMBAWA KEPADA MEREKA YANG MENGIKUTI PARA ULAMA DAN IMAM-IMAM , MENINGGALKAN, DAN MENGIKUTI BELIAU SAHAJA)
Kitab berjodol: التعريف بأوهام من قسم السنن الى صحيح و ضعيف yang
telah ditulis oleh Sheikh Mahmud Sa’eed Mamduh adalah menjelas tentang
bagaimana Albani telah menjadi guru besar untuk mentashihkan semula
hadith-hadith yang telah sahih di sisi Imam-Imam besar dalam bidang
hadith.
Sheikh juga mengulas bagaimana Albani
telah melakukan jenayah ilmiyyah dengan
membahagikan 4 bahagian kepada 2
bahagian sahaja.Kalau ulama telah membahgikan hadith kepada :
1-hadith sahih
2- hadith hasan
3- hadith dha’if
4- hadith maudhu’,
Namun Albani telah melawan arus dan menentang ijma ulama sunni dengan membahagikan kepada :
1- hadith sahih dan hasan yang boleh beramal dengan keduanya ,
2- hadith dha’if dan
maudhu’ yang tidak boleh ber’amal dengan keduanya, bahkan tidak boleh
menggunakannya untuk targhib (fadhilah) sekalipun.
Didalam kitab yang berjumlah 6
jilid ini , Sheikh Mahmud Sa’eed Mamduh telah menjelaskan semula
hadith-hadith yang telah dipermainkan oleh Albani dalam mentashihkan
(mensahihkan) dan mentadha’ifkan (melemahkan) semula hadith-hadith
mengikut selera beliau. Sheikh Mahmud telah menjelaskan semula hadith-hadith yang telah dicelarukan oleh Albani yang hampir mencecah 1000 buah hadith , dari bab TAHARAH sehingga bab KELEBIHAN MEKAH.
MAN yang dimaksud didalam tajuk
kitab ini adalah merujuk kepada Nasiruddin Albani.Mejoriti tokoh-tokoh
wahabi di seluruh dunia bertaqlid secara tanpa usul periksa dengan
beliau.Seakan-seakan Albani mengungguli seluruh ulama dan ilmuan dari
timur sampai ke barat, yang pada hakikatnya adalah satu yang palsu dan
bohong.
Pada hari ini agamawan dari lepasan
al-Azhar pun terkadang terpedaya dan terikut-ikut dengan mainan kaum
Wahabi dengan merujuk kepada Albani dalam mentashihkan hadith-hadith.
Siapalah Albani di sisi para imam-imam muhaddisin??sehingga cuba untuk menilai semula hadith-hadith yang telah selesai pembahagiannya.
Mana-mana hadith yang sesuai dengan
aliran wahabnya , maka beliau akan mensahihkan hadith tersebut dan
sebaliknya mana-mana hadith yang tidak sesuai dengan selera nafsu dan
aliran wahabnya , maka hadith tersebut di anggap lemah di sisi beliau.
Pembahagian hadith dha’if bersama
hadith maudhu’ membawa implikasi yang sangat besar terhadap seluruh
hukum-hakam yang telah dibina dan ditinggalkan kepada kita .Ini bererti
segala ijtihad ulama yang telah selesai terpaksa dirombak semula dan
segala khazanah yang tidak ternilai ini terpaksa diketepikan.Yang paling
menakutkan, zahirlah MAZHAB ALBANI yang sesat lagi menyesatkan dan
suram segala mazahib yang telah diijma’kan kebenarannya oleh al-sawad
al-’azam(mejoriti ulama islam).Namun penulis yakin sepenuh hati
kebenaran tidak akan padam sama sekali ,kerana Rasulullah telah
menjanjikan taifah (kumpulan) kebenaran akan terus ada dan hidup segar
disetiap zaman.

Ini bermakna segala turath peniggalan para ulama berkurun-kurun lamanya terpaksa diketepikan dan penyusunan semula ijtihad terpaksa
dilakukan .Ini adalah kerja gila dan mustahil bagi umat yang
terkemudian dan tidak sama sekali berkemampuan untuk melakukan semua
ini.Sheikh Mahmud Sa’eed Mamduh telah mengulas dengan panjang lebar
berhubung perkara ini dalam jilid yang pertama.
http://al-subki.blogspot.com/
Lampiran :
Kesesatan Nashiruddin Al-bany (wahaby – salafy) Dalam Ilmu Hadits
Judul asli : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru).
Penulis : Syaikh Hasan Ali Assegaf
Penerbit : Imam Al-Nawawi House Postbus 925393 Amman Jordan
Mari kita sekarang meneliti sebagian pilihan/seleksi
isi buku Syeikh Segaf tentang kesalahan-kesalahan al-Albani. Setiap
nomer yang dalam bahasa Inggris selesai langsung kami terjemahkan
(kurang lebih artinya) kedalam bahasa Indonesia, insya Allah buat
pembaca mudah untuk menelitinya.
Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim.
Syekh Al-Albani telah berkata didalam Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8 Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi (Rahimahullah). “Hadits-hadits
shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan karena
diriwayatkan oleh mereka tapi karena hadits-hadits tersebut sendiri
shohih”. !
Tetapi dia (Albani) telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah melemahkan
hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari
Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani
keterangan berikut ini :
Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.
No.1: (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: Aku musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ; a) Orang yang mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya b) Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut c) orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajihnya. (Bukhori no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris 3/430 hal. 236). Al-Albani berkata dalam Dhaif Al-jami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. bahwa hadits ini lemah.
Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang hadits, hadits diatas
ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra.
No.2: (Hal. 10 nr.2) Hadits : “Korbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar buatmu maka korbanlah satu domba jantan”
( Muslim nr.1963 dalam versi bahasa Arab yang versi bahasa Inggris
3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr.
6222 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir ra.
No.3: (Hal.10 nr.3) Hadits: ‘Termasuk
orang yang paling buruk dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari
pembalasan yaitu suami yang berhubung- an dengan isterinya dan isteri
berhubungan dengan suaminya dan dia menceriterakan rahasia isterinya (pada orang lain) ‘ (Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.
No.4: (Hal.10 nr.4) Hadits: “Bila seorang bangun malam (untuk sholat), maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan” (Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.
No.5: (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’ (Muslim nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.
No.6: (Hal.11 nr. 6) Hadits: ‘orang yang dimuliakan disisi Allah pada hari pembalasan (kiamat) ialah yang tidak membuka rahasia antara dia dan isterinya’. (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam Dhaeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi Sayyed.
No.7: (Hal.11 nr.7) Hadits: ‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘ (Muslim nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772 menyatakan hadits ini lemah.
Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi
Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021
dalam versi Inggris).
NotaBene: Didalam riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !
No. 8 (Hal.11 nr.
Hadits: Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef’’ (Bukhori, lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi Al-Albani dalam “Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 berkata bahwa hadits ini lemah. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra.
Syeikh
Segaf berkata : Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena
takut terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan
sebutkan banyak contoh-contoh dari buku-buku Al-Albani …………..)
AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA (jilid 1 hal.20) Syeikh Seggaf
berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani
menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh
ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara
langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! .
Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia
sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu
hadits) ‘Lam aqif ala sanadih’ artinya ‘ Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ atau
dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar
penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia
sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik.
Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :
No.9: (Hal. 20 nr.1) Al-Albani dalam “Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847″ berkata: (riwayat dari Ali): ‘ Saya tidak menemukan sanadnya”.
Syeikh
Seggaf berkata: ‘Menggelikan! Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar
dalam Islam maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan
Al-Baihaqi 7/121 diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang
katanya bahwa Abu Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa
Ahmad ibn Abdal Hamid berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma
ibn Kahil dari Mu’awiyah ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam
buku ayah saya dari Ali kw.
No.10: (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam ‘Irwa Al-Ghalil, 3/283′ berkata; Hadits dari Ibn Umar (Ciuman-ciuman adalah bunga yang tinggi [riba’) Saya tidak menemukan sanadnya.
Syeikh
Seggaf berkata: Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam
Fatwa Syeikh Ibn Taimiyya Al-Misriyah 3/295: “Harb berkata bahwa
Ubaidullah ibn Mu’az berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid
dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra berkata: ‘ Ciuman-ciuman itu
adalah (bunga?) yang tinggi ‘ Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut
Ibn Taimiyyah !
No.11: (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas’ud ra : ‘Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh (macam) bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas ....(ada batasnya) ‘ Al-Albani dalam Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 menyatakan
menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan
banyak hadits dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh
As Sunnah” tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan
Keutamaan Al-Qur’an tidak menemukan hal itu !
Syeikh
Seggaf berkata: ‘Ulama yang paling pandai telah berbicara kesalahan
yang sudah biasa. Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan, bila
dia benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits, kami mengusulkan
agar dia melihat dalam bab yang berjudul 'Al-Khusama fi Al-Qur'an van Sharh-us-Sunnah (1/262)
dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya’la
dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172,
Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90, Haitami telah menyatakan dalam Majmu’a
Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Tabrani
dalam Al-Awsat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercayai.
No.12: (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam Shahiha, 1/230 waktu dia memberi komentar tentang hadits nr. 149; “ Orang yang beriman ialah orang yang perutnya tidak kenyang... “
hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan
Al-Hakim dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak
Al-Hakim setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya.
Syeikh
Seggaf berkata: Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada
kebodohan yang sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya!
Kalau engkau akan mencari dalam Mustadrak Al-Hakim 2/12 maka dia akan
engkau dapati ! Ini membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli
menggunakan buku index dan memberitakan dari Hadits.
No.13:
(Hal.23) Lebih menggelikan lagi dugaan yang dibuat oleh Al-Albani dalam
Shohihah, 2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‘Abu Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya’ tidak ada didalam ‘Hilya’. Saya usulkan agar anda melihat didalam "Hilya, 4/73 " !
No.14 (Hal.23 nr. 5) Al-Albani dalam "Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4" mengatakan : Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk 6 ahli hadits karena dia ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib.
Syeikh
Seggaf berkata: ‘Itu menurut anda! Sebenarnya bukan begitu, nama
julukannya ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib,
Al-Tahdzib disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar
Al-Fikr ! Hati-hatilah!
MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !
No.15.
(Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu'l Fadl Abdullah ibn
Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu
Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan
perawi Abu Maymuna ; ‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..’
” Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah
merujuk hadits ini pada Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata
bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona
dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan “.
Al-Albani berkata pada halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi
Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga
telah menunjuk kan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari
itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz.
Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan, sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam Irwa Al-Ghalil, 3/238
yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh
Ahmad (2/295), al-Hakim....dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang
mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan
Hakim berkata; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !
Begitulah
Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang
selalu salah; Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?
No
16 (Hal.27 nr. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan
wanita memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad
ibn Imara. Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ”
tidak kuat “, lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.
Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku 'Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45
berkata: “ Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat....” Jadi lihat pada
catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang !
NotaBene:
Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan
larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal
kenyataannya para Ulama lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan
berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian
(perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’
terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85 : “Dalam
zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan suatu
pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan
wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/
disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak
hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya,
tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka
dia percaya hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting-anting
emas “. Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan
pendapat-pendapatnya yang ekstrem ?
No
17 (Hal. 37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw.
telah diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x
dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘Apakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah, apakah dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa’i).
Al-Albani menyatakan hadits ini lemah
menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat Al-Masabih 2/981
cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang mengatakan “
Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit,
karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani berkata
berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej
Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga Maktab
Al-Islami, 1405 A.H" telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih !!
No
18 (Hal.37 nr.2) Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah
sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya
didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia
harus bangun” . Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.
No. 19 (Hal.38 nr. 3) Hadits : “Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim” Al-Albani menganggap hadits ini lemah
dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya;
Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang
dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu dia bertentangan dengan
perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’ dan mengatakan hadits
ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !
No.20 (Hal. 38 nr. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya.
Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar
dengan bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu
Hajar) berkata mengenai dia “dapat diterima”, tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih.
Maka
dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang
mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan: ‘Perawi-perawi dalam sanad
ialah semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang
dicantumkan oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu
dari orang-orang Nasa’i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn
Hibban dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya,
daripada itu dia hanya mengatakan “dapat diterima” .Hatilah-hatilah dari kebohongan !
No.21 (Hal. 39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ Sholat Jumat wajib bagi orang yang sudah mendengar panggilan (adzan)” (Abu Daud). Al-Albani menyatakan hadits ini Hasan dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”, dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini lemah dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !
No.22 (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasulallah saw. telah bersabda: “Janganlah
keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras
terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan
keras juga terhadap mereka”. (Abu Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di "Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan !!
No.23 (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “Siapapun
yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri,
janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk” (Ahmad,Nasa’i dan Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah. Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201” bahwa hadits ini Shohih !
No.24 (Hal.40 nr.8) Hadits : “Tiga
macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir,
lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan
sex (junub) sampai dia bersuci ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056 dengan mengatakan hadits itu Hasan dalam penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga mengatakan Hasan dalam
Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The Etiquettes of Marriage and
Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam
penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits
yang sama ini Lemah,
dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai
sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar sebagaimana yang
disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!
No.25 (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “bahwa
Ibn Abbas ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak
antara Makkah dan Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah
dan Jeddah…..” Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang mengatakan ini Shahih !
No. 26. (Hal.43 nr.12) Hadits : “Tinggalkan
orang-orang Ethiopia selama mereka meninggalkanmu, sebab tidak ada
orang yang mengambil barang berharga dari Ka’bah kecuali seorang Ethopia
yang dua kakinya lemah” . Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya Lemah. Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan membenarkannya dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !
Contoh
(Sifat) dari Al-Albani ialah pertama memuji seseorang disatu tempat
dibukunya dan dilain tempat mengecilkan orang tersebut.!!
No.27 (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam Shahih al Targhib wa Tarhib hal. 63
yang mana katanya ; “Saya ingin agar engkau mengetahui satu dari
beberapa hal bahwa saya memberanikan diri untuk….yang dikomentari oleh
ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “….
dan dia (Albani) mengatakan pada halaman yang sama “Dan apa yang membuat
saya rindu untuknya, orang yang menyelidiki sesuatu dan mengumumkannya
yaitu yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “. Al-Albani memuji
Syeikh al-Azami dalam buku yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat penyangkalan dalam ‘Adaab uz Zufaaf
(Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang dia berkata;
Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya, salah satu musuh dari
Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal , ialah Syaikh Habib
al-Rahman al-Azami……karena ketakutan dan kekurangan ilmunya….””
NB: (Kutipan diatas dari ‘Adaab uz Zufaaf
, tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh
pendukung-pendukungnya yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja
tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Ini perlu
diperhatikan !
Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2
No.28 (Hal.143 nr.1) Hadits dari Abi Barza ra: “ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang lebih benar dari saya “(Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini Shohih dalam Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 dan
kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya
dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu Lemah. HATI-HATILAH DARI PENGACAUAN INI !
No 29 (Hal. 144 nr. 2) Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “Letakkanlah batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan jumrah
“ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu
kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad
hadits ini Lemah, tapi kemudian dia bertentangan sendiri yang mengatakan Shohih dalam “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !”
No 30 (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : “Rasulallah
saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh)
…apa boleh dia makan atau tidur…Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang
ini wudu dahulu “ (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592). Al-Albani telah mengikrarkan kelemahannya didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan membenarkan hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482).
No. 31 (Hal.145 nr.4) Hadits dari Aisyah ra ; “ Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal. 157. !!
No 32 (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : “Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus” Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan
dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi
kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69
nr. 4947 dan 4948 !!
No. 33 (Hal.146 nr.6) Hadits dari Abu Dzar ra : “Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15 “ . Al-Albani menyatakan hadits ini Lemah dalam
Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr.
2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya Shohih dalam
Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu
dalam Shohih al-Nisai 3/902 nr. 4021 !! Ini adalah kontradiksi yang
besar !
NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Shohih al-Nisai dan dalam Daeef al-Nisai, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)
No.34 (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; “ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘Shohih, kecuali bagian al-Dunya’. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa semua Hadits ini Shohih termasuk bagian al-Dunya. Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !
No.35 (Hal. 147 nr.
Hadits dari Buraidah ra: “Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka (Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya….). Al-albani telah mengatakan hadits in Shohih dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef al-Nisai hal.230) !
No.36 (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ Siapapun
membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk
menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama
warnanya tidak menjadi coklat (karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya). Al-Albani telah melemahkan hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.Tetapi ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “tiga hari” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani!
No.37 (Hal. 148 nr.10) Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya (untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani telah melemahkan
ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah
berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’.
Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan Shohih termasuk bagian hari Jum’at dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !! Semoga Allah menyembuhkanmu !
Al-Albani dan Fitnahannya Dan Perawi-perawi yang dipercaya kesenangannya !
No
38 (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy : Al-Albani berkata
dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu
telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri
dengan katanya “ Ada kelemahan pada Kanaan” (lihat Daeefah, 4/282) !!
No
39 (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan
Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad
yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan
Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia…’“. Al-Albani telah membuat
kontradiksi dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “
Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits
yang baik“. Suatu pertentangan yang menakjubkan !!!
No
40 (Hal. 158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan
dia dalam Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad lemah yang
mempunyai tiga kekeliruan….kekeliruan kedua ialah kelemahan dari al-
Dhabi, Hafiz berkata ; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ .
Kemudian Al-Albani membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432,
dimana dia ber- kata tentang sanad yang menyebut Utba; ”Dan ini sanad
yang baik (Hasan),
Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya…..tapi mempunyai khayalan, dan
lain daripada sanad perawi itu semuanya dapat dipercaya”.
No 41 (Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “ Hisham ibn sa’ad ialah perawi hadits yang baik”. Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini lemah dalam hafalan”. Sesuatu yang mengherankan !!
No
42 (Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah
melemahkan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “ Dia merasa
dirinya bisa dipercaya, tapi dia sebagai Pemalsu yang sangat jelek, dengan menjadikan dirinya tidak dipercayai…”
Al-Albani membuat kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui
dia (Umar ibn Ali) dan mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn
Ali maka bisa dipercayainya.
Al-Albani berkata “ Diklasifikasikan oleh Hakim yang mana berkata :
“Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi mengakuinya juga
dan mereka (berdua) mengatakan demikian adalah benar “. Itu sangat
mengherankan !
No 43 (Hal. 160. nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka telah mengatakan tidak ada yang benar
tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri dalam ‘buku lainnya
yang ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil mengatakan “Ini adalah baik (Hasan) sanadnya dan perawi-perawinya semua bisa dipercaya”. Berhati-hatilah !!
No
44: (Hal. 165 nr. 13) Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam
Shohihah 3/79 : “ Ada dalam sanad Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah
menyatakan bisa dipercaya”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataannya yang mengatakan Lemah tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga lemah “. BERHATI-HATILAH !!
No 45 (Hal. 161 nr.
Ashaath
Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki (Al-Albani) ini !!
Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228, “Keadaannya/statusnya tidak dikenal,
dan hanya Ibn Hibban mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan
sendiri, seperti kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin
dari buku-buku dan tidak ada lain- nya, dan dia mengutip/menyalin tanpa
adanya ilmu pengetahuan. Ini dibukti- kan dalam Shohihah 1/450, dimana
dia berkata tentang Ashaath : “Dapat dipercaya”. Keajaiban yang luar biasa!!
No
46: (Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat ! Paling
Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘dapat dipercaya‘ disatu tempat dan membuat dia ‘tidak dikenal’ ditempat lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani ialah dapat dipercaya”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeeah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu tidak dikenal dan haditsnya itu tertolak ! “.
No
47: (Hal. 163 nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani
memperbaiki sanad sambil mengatakan itu baik dalam Irwa 8/7, dengan
kata-kata : “ Dan sanad tersebut adalah baik , perawi-perawi semua dapat dipercaya, kecuali Ibn Abdullah al-Kufi dia adalah jujur “. Dia kemudian kontradiksi sendiri dengan melemahkan sanad
dari hadits yang diketemukan al-Ijlaa dan dia membuat alasan baginya
untuk menyatakannya lemah (lihat Daeefah 4/71) , dimana dia berkata: “
Ijlaa ibn Abdullah mempunyai kelemahan
“ Al-Albani menukil kata-kata Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang
berkata ; “ Al-Ijlaa tidak mengetahui apa yang dia katakan “ !!!
No
48: (Hal. 67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah
mengeritik Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli
hadits Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah
4/302, waktu mengontrol hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn
Salih. Dia (Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn
Salih menjadi benar dan haditsnya menjadi baik, dia sendiri sangat
banyak membuat kesalahan dan yang mana juga memasukkan beberapa hadits
palsu didalam bukunya, dan dia meyebutkan sanad-sanadnya tapi dia
sendiri tidak mengenal mereka.”
Dia
(Albani) tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu
orang dari orang-orangnya Imam Bukhori (yaitu dipakai oleh Bukhori),
karena (Albani) tidak cocok dengan caranya (Albani) dan dia (Albani)
tidak menyebutkan bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits
telah mempercayai dia (Abdullah Ibn Salih). Al-Albani telah berlawanan
dengan perkataannya sendiri, dalam tempat lain dibuku-bukunya telah
mengatakan bahwa semua hadits yang diketengahkan Abdullah ibn Salih
adalah baik, sebagai berikut :
Al-Albani
berkata dalam de Silsilah Al-Shohihah, 3/229 : “ Dan sanad itu baik,
karena Rashid ibn Saad telah disepakati dapat dipercaya dan lebih rendah
dari dia dalam lingkungan orang-orang yang Shohih dan juga Abdullah ibn
Salih telah mengatakan sesuatu yang tidak bahaya dengan bantuan Allah
“Al-Albani juga berkata dalam Shohihah 2/406 mengenai sanad yang
didalamnya ada Ibn Salih “sanad berkesinambungan yang baik” Dan lagi
dalam Shohihah 4/647; “Dia adalah bukti dalam berkesinambung an”
NB:
(kemudian Syeikh Seggaf meneruskan dengan beberapa wejangan yang
penting, demi keringkasan sengaja tidak diterjemahkan , tetapi bila
orang ingin merujuknya bisa lihat bahasa Arabnya). Dengan karunia Allah,
ini telah cukup dari buku-buku Syeikh Seggaf untuk meyakinkan siapa
saja yang mencari kebenaran, biarkan orang-orang itu sendiri
bersama-sama mengetahui sedikit tentang ilmu hadits. Bila ada orang
tertarik untuk mendapatkan buku yang didalamnya ada ratusan kutipan yang
serupa (tentang Al-Albani) yang berjudul Tanaqadat Al-Albani Al-Wadihat silahkan anda menulis kealamat dibawah ini :
IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN JORDAN
(Biaya
untuk jilid 1 ialah US$ 4,00 belum termasuk ongkos pengiriman (via
kapal laut) dan biaya untuk jilid 2 ialah US$ 7,00 belum termasuk ongkos
pengiriman -via kapal laut- dan biaya bisa berubah setiap waktu). ALLAH
MAHA MENGETAHUI.
Demikianlah
sebagian kecil (seleksi) isi buku Syeikh Segaf tentang kesalah
an-kesalahan Al-Albani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Nama-nama sebagian ulama pengeritik Al-Albani
Syekh Al-Albani sering juga mengeritik para ulama lainnya diantaranya beliau juga mengeritik buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq dan buku At-Tajj Al Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli
oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini. Al-Albani sering menyalahkan
dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama
pakar ahli hadits baik secara langsung maupun tidak langsung. Dia
mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia
selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu
Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak menemukan rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa !
Disamping
kritikan diatas ini, tidak kurang para ulama-ulama lainnya yang
mengeritik Syekh Al-Albani ini yang saya dapati dari internet
diantaranya adalah sebagai berikut :
Sarjana ahli hadits India yang bernama Habib al-Rahman al-A`zami telah
menulis buku yang berjudul al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan
dan Kesalahan Al-Albani) dalam empat jilid.
Sarjana Syria yang bernama Muhammad Sa`id Ramadan al-Buuti menulis
dalam dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid`atin
Tuhaddidu al-Shari`a al-Islamiyya (”Not Following A School of
Jurisprudence is the Most Dangerous Innovation Threatening Islamic
Sacred Law”) dan al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka La
Madhhabun Islami (”The `Way of the Early Muslims’ Was A Blessed
Historical Epoch, Not An Islamic School of Thought”).
Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari buku-bukunya yang berjudul e Irgham al-Mubtadi` al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-Radd `ala al-Albani al-Wabi;
(”The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of
Using the Prophet as an Intermediary in Refutation of al-Albani the
Baneful”), al-Qawl al-Muqni` fi al-Radd `ala al-Albani al-Mubtadi` (”The Persuasive Discourse in Refutation of al-Albani the Innovator”), dan Itqan al-Sun`a fi Tahqiq Ma`na al-Bid`a (”Precise Handiwork in Ascertaining the Meaning of Innovation”).
Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd al-`Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari bukunya berjudul Bayan Nakth al-Nakith al-Mu`tadi (”The Exposition of the Treachery of the Rebel”).
Sarjana Hadits dari Syria yang bernama `Abd al-Fattah Abu Ghudda bukunya yang berjudul Radd `ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima
(”Refutation of the Falsehoods and Fabrications of Nasir al-Albani and
his Former Friend Zuhayr al-Shawish and their Supporters”).
Sarjana hadits dari Mesir yang bernama Muhammad `Awwama bukunya berjudul Adab al-Ikhtilaf (”The Proper Manners of Expressing Difference of Opinion”).
Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh buku-bukunya berjudul Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd `ala al-Albani (”The Alighting of Mutual Benefit and Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani `ala Shohih Muslim (”Warning to the Muslim Concerning al-Albani’s Attack on Shohih Muslim”).
Sarjana hadits dari Saudi Arabi yang bernama Isma`il ibn Muhammad al-Ansar buku-bukunya yang berjudul Ta`aqqubat `ala “Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani (”Critique of al-Albani’s Book on Weak and Forged Hadiths”), Tashih Sholat al-Tarawih `Ishrina Rak`atan wa al-Radd `ala al-Albani fi Tad`ifih (”Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak`as and the Refutation of Its Weakening by al-Albani”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd `ala al-Albani fi Tahrimih (”The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to al-Albani’s Prohibition of it”). –
Sarjana Syria Badr al-Din Hasan Diab bukunya berjudul Anwar al-Masabih `ala Zulumat al-Albani fi Sholat al-Tarawih
(”Illuminating the Darkness of al-Albani over the Tarawih Prayer”). —–
Direktur dari Pensubsidian Keagamaan (The Director of Religious
Endowments) di Dubai, yang bernama `Isa ibn `Abd Allah ibn Mani`
al-Himyari buku bukunya yang berjudul al-I`lam bi Istihbab Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam (”The Notification Concerning the Recommendation of Travelling to Visit the Grave of the Best of Creation) dan al-Bid`a Al-Hasana Aslun Min Usul al-Tashri`
(”The Excellent Innovation Is One of the Sources of Islamic
Legislation”). – Menteri Agama dan Subsidi dari Arab Emiraat (The
Minister of Islamic Affairs and Religious Endowments in the United Arab
Emirates) yang bernama Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-Khazraji yang
menulis artikel al-Albani: Tatarrufatuh (”Al-Albani’s Extremist Positions”).
Sarjana dari Syria yang bernama Firas Muhammad Walid Ways dalam edisinya yang berjudul Ibn al-Mulaqqin’s Sunniyyat al-Jumu`a al-Qabliyya (”The Sunna Prayers That Must Precede Sholat al-Jumu`a”).
Sarjana Syria yang bernama Samer Islambuli bukunya yang berjudul al-Ahad, al-Ijma`, al-Naskh.
Sarjana Jordania yang bernama As`ad Salim Tayyim bukunya yang berjudul Bayan Awham al-Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Sholat `ala al-Nabi.
Sarjana Jordania Hasan `Ali al-Saqqaf menulis dua jilid yang berjudul Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat
(”Albani’s Patent Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He
Committed While Declaring Hadiths to be Sound or Weak”), dan
tulisan-tulisannya yang lain ialah Ihtijaj al-Kha’ib bi `Ibarat man Idda`a al-Ijma` fa Huwa Kadhib (”The Loser’s Recourse to the Phrase: `Whoever Claims Consensus Is a Liar!’”), al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawm al-Sabt (”The Firm Discourse Concerning Fasting on Saturdays”), al-Lajif al-Dhu`af li al-Mutala`ib bi Ahkam al-I`tikaf (”The Lethal Strike Against Him Who Toys with the Rulings of I`tikaf), Shohih Sifat Sholat al-Nabi Sallallahu `alayhi wa Sallam (”The Correct Description of the Prophet’s Prayer “), I`lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an `ala al-Junub wa al-Ha’id
(”The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to
those in a State of Major Defilement and Menstruating Women”), Talqih al-Fuhum al-`Aliya (”The Inculcation of Lofty Discernment”), dan Shohih Sharh al-`Aqida al-Tahawiyya (”The Correct Explanation of al-Tahawi’s Statement of Islamic Doctrine”).
; http://salafytobat.wordpress.com/category/albany-wahaby-mencelarukan-lebih-dari-1000-hadits/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar