Selasa, 04 Maret 2014

ANTISIPASI TIGA ALIRAN YANG BERBAHAYA DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN KADERISASI ASWAJA ( Oleh : Abdulloh Faizin, M.Pd )





ANTISIPASI TIGA ALIRAN YANG BERBAHAYA
DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN KADERISASI ASWAJA
( Oleh : Abdulloh Faizin, M.Pd )
 

Otoritas dalam menginterpretasikan nilai Islam untuk kemudian merefleksikannya dalam jalinan hubungan vertikal-horizontal memang bukan milik siapa – siapa. Oleh karenanya, sikap mengamini dan mengimani perbedaan ( ikhtilaf ) adalah hal yang wajar. Akan tetapi bila kemudian muncul satu gerakan pemikiran yang cenderung seduktif pasca ikhtilaf kompromistis, baik terhadap komunitas Islam ataupun non Islam, maka tentu hal ini tidak lagi bias dikatakan sebagai suatu hal yang wajar.

            Karena pada kenyataannya sikap militan radikalis yang terefleksikan dari emosi pemikiran fundalisme, ekstrimisme atau isme –isme lainnya, tidak dapat diamati secara terpisah dari konteks social, politik ekonomi, dan budaya yang meliputinya.
            Dalam kesempatan pembahasan ini akan diuji sejumlah pemikiran yang ditelorkan oleh tiga aliran yang sangat mempunyai kecendrungan untuk menyimpang dari koridor nilai Islam. Maksud koridor disini adalah sebagaimana yang banyak disepakati oleh pemahaman ulama baik salaf maupun khalaf. Penulis paham betul dan tentu bisa menerima setiap perbedaan pemikiran yang duhasilkan oleh siapa pun, masyarakat awam maupun ulama.
            Dalamperspektif penulis, perbedaan pendapat bukanlah permasalahan yang perlu dirisaukan, akan tetapi bila salah satu bentuk pemikiran dikedepenkan hanya untuk mendapatkan legitimasi diri dan pergerakan, apalagi bila dikejawentahkan dengan upaya pencapaian pengaruh dari sebuah gerakan politik, tentu akan menjadi masalah, selagi pemahaman pemikiran mereka dapat dicurigai adanya upaya manipulasi nash Islam.
            Semangat spiritualisme Islam bisa ditabuihkan untuk menjadi genderang pergolakan akses politik, apalagi bila sengaja ditujukan untuk masyarakat yang haus akan kepentingan Islam. Ketegasan dalam bersikap sebagai muslim dan keabsolutan nilai nash Islam itu sendiri, bukan berarti harus bersikap radikal kepada baik itu sesama muslim lainnya atau kepada non Islam. Dalam kajian berikut, sekilas pandang akan dipaparkan beberapa hasil pemikiran dari tiga aliran pemikiran Islam, yang kemudian kerap menjadi sumber legitimasi aksi – aksi reaksioner radikal atas nama Jihad Islam. Memang tidak banyak yang disampikan nanti, namun cukup bisa dipahami sebagai pemikiran yang memanipulasi nash untuk kemudian dimanfaatkan oleh pemuka jamaah ataupun sempalannya sebagai alat keabsahan dari sebilah pedang terhunus dan tak bersarung lagi.
            Ketiga Aliran Pemikiran tersebut adalah Aliran Wahabiyah adalah pengikut dari Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi (1206 H). sedang partai Ikhwan al-muslimin adalah pengikut dari Sayyid Qhuttub Al-Misri (1387 H) dan Hizbu Tahrir adalah pengikut dari Taqiyuddin An-Nabhani Al-Paliastini (1400 H).



TIGA ALIRAN YANG BERBAHAYA
 







1.     
1.      Hukum dan keadilan adalah makhluk Alloh
2.      Melancarkan aksi pembunuhan disejumlah Negara, mesir, syiria Al-jazair
 
Pemahaman Agama (Ushuluddin) (Jismun)
2.      Bertentangan dengan pemikiran salaf
3.      Haram Ziarah, Istighotsah, Tawasul.
4.      Kafir orang yang tidak menerima da’wahnya

Kitab – Kitab yang menolak Faham Wahabi.
1.      Text Box: HIZBUT TAHRIR
Syech. Taqiyuddin An-Nabhani
Al-Palistini (1400 H)
jalaudholam Firoddi Al-Mujdilladi dollamah
2.      Al – Fajrusshodiq fii roddi mungkirittawasul
3.      Ad-durorul As-sanniyah firoddil Wahabiyah
4.      Syawahidul Haq Fil Istighotsah
5.      Diyyausshodri lil Mungkirirttawasulil bi Ahlil Qubur.
6.      Al-aqulussyari’ah Firoddil Wahabiyah.                               1. Baiat Kholifah
7.      Dhiyaun Nahar li Ibthoi Syibhul Anwar                              2. Penafsiran ayat pedang
8.      Al-Haqoiqul Islam Firoddil Mazaimil Wahabiyah               3. Makar terhadap pemerintah


KESIMPULAN
            Sebenarnaya antara agama dan hasil pemikiran adalah dua hal yang jauh berbeda, dimana agama adalah wahyu Ilahi yang tidak terbantahkan dan tidak pula ternodai, sedang pemikiran Agama adalah hasil logika manusia yang sangat terbatas hakekat kebenarannya. Atau dalam pengertian lain, agama adalah penyerahan diri sepenuh hati untuk beriman, sedang hasil pemikiran orang adalah sumbu penyulut Api pertikaian dan perang. Dengan begitu, mereka yang mengimani agama sebagai pemikiran orang, maka sama saja menempatkan dirinya sebagai api penyulut permasalahan. Di dunia ini tidak ada yang lebih bodoh dan lebih bohong kecuali mereka yang mencoba mengakitkan antara agama dengan kekerasan dan permusuhan.
            Iman adalah kecintaan kepada Allah Swt, dan kecintaan kepada maha Pencipta berarti kecintaan kepada makhluknya. Sedang kekerasan dan permusuhan, siapapun yang mengedepankannya, maka dia adalah makhluk terlarang dalam Islam. Mempolitisir agama atau gerakan Islam Politik, hal itu berarti upaya penggabungan antara agama dan politik. Agama sebagai risalah ketuhanan yang mempunyai kebenaran absolut, sedang politik adalah hasil pemikiran manusia yang mempunyai kebenaran relatif.
            Logika selanjutnya adalah, apabila ada orang yang berpendapat hasil pemikirannya mepunyai kebenaran sebagaimana kebenaran agama, dan mereka yang menetang hasil pemikiran ini berarti telah menentang agama, adalah satu bentuk logika yang seratus persen bertentangan dengan Islam itu sendiri selanjutnya, pada tataran yang lebih ekstrim, kebanyakan gerakan Islam politik mengubah permasalahan benar-salah menjadi permasalahan halal-haram. Dengan begitu, siapapun yang bertentangan berarti telah keluar dari koridor agama Islam, ini artinya si penentang tersebut telah murtad dan dapat dihakimi sebagai kafir. Bila demikian, maka darahnya halal. Inilah rekaan pertama yang kemudian dikembangkan menjadi alasan adanya gerakan terorisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar