IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI ASWAJA DALAM KONTEKS GERAKAN
Oleh:
Abdulloh Faizin MPd.
Aswaja
yang sebagai manhaj al-taghayyur al-ijtima’I bisa kita tarik dari
nilai-nilai perubahan yang diusung oleh Nabi Muhammad dan para sahabat ketika
merevolusi masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat tercerahkan oleh
nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan universal. Ada dua hal pokok yang menjadi
landasan perubahan itu :
Ø
Basis Realitas, yaitu keberpihakan kepada kaum
tertindas dan masyarakat lapisan bawah.
Dua basis ini terus menjadi nafas perubahan yang diusung
oleh umat Islam yang konsisten dengan aswaja, termasuk di dalamnya NU .
Konsistensi di sini hadir dalam bentuk élan dinamis gerakan yang selalu terbuka
untuk dikritik dan dikonstruk ulang, sesuaidengan dinamika zaman dan lokalitas.
Dia hadir tidak dengan klaim kebenaran tunggal, tetapi selalu berdialektika
dengan realitas, jauh dari sikap eksklusif dan fanatic.
Maka empat nilai yang dikandung oleh aswaja, untuk
konteks sekarang harus kita tafsirkan ulang sesuai dengan perkembangan
teori-teori social dan ideology-ideologi dunia.
Tawassuth sebagai pola piker, harus kia maknai sebagai tidak mengikuti
nalar kapitalisme-liberal di satu sisi dan nalar sosialisme di sisi lain. Kita
harus memiliki cara pandang yang otenti tentang realitas yang selalu
berinteraksi dalam tradisi. Pemaknaanya ada dalam paradigma yang dipakai oleh GENERASI
MUDA yaitu paradigma kritis transformative.
Tasamuh sebagai pola sikap harus kita maknai sebagai bersikap
toleran dan terbuka terhadap semua golongan selama mereka bisa menjadi saudar
bagi sesame. Sudah bukan waktunya lagi untuk terkotak-kotak dalam kebekuan
golongan, apalagi agama. Seluruh gerakan dalam satu nafas pro-demokrasi harus
bahu membahu membentuk aliansi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih baik,
bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan. GENERASI MUDA harus
bersikap inklusif terhadap sesama pencari kebenaran dan membuang semua bentuk
primordialisme dan tanatisme keagamaan..
Tawazun
sebagai pola relasi dimaknai sebagai
usaha mewujudkan egalitarianisme dalam ranah social, tidak ada lagi kesenjangan
berlebihan antar sesame manusia, antara laki-laki dan perempuan, antara kelas
atas dan bawah. Di wilayah ekonomi GENERASI MUDA harus melahirkan model gerakan
yang mampu menyeimbangkan posisi Negara, pasar dan masyarakat. Berbeda dngan
kapitalisme yang memuasatkan orientasi ekonomi di tangan pasar sehingga fungsi
negara hanya sebagai obligator belaka dan masyarakat ibarat robot yang harus
selalu menurutikehendak pasar, atau sosialisme yang menjadikan Negara sebagai
kekuatan tertinggi yang bengontrol semuakegiatan ekonomi, sehingga tidak ada
kebebasan bagi pasar dan masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomina. Di
wilayah politik, isu yang diusung adalah mengembalikan posisi seimbang antara
rakyat dan Negara. GENERASI MUDA tidak menolak kehadiran Negara, karena Negara
melalui pemerintahannya merupakan implementasi dari kehendak rakyat. Maka yang
perlu dikembalikan adalah fungsi Negara sebagai pelayan dan pelaksana setiap
kehendak dan kepentingan rakyat. Di bidang ekologi, GENERASI MUDA harus menolak
setiap bentuk eksploitasi alam hanya semata-mata demi memenuhi kebutuhan
manusia yang berlebiahn. Maka, kita harus menolak nalar positovisik yang
diusung oleh neo-liberalisme yang menghalalkan eksploitasi berlebihan terhadap
alam demi memenuhi kebutuhan bahan mentah, juga setiap benuk pencemaran
lingkungan yang justru dianggap sebagai indikasi kemajuan teknologi dan
percepatan produksi.
Ta’adul sebagai pola integral mengandaikan usaha GENERASI MUDA
bersama seluruh komponen masyarakat, baik nasional maupun global, untuk
mencapai keadilan bagi seluruh umat manusia. keadilan dalam berpikir, bersikap
dan relasi. Keadilan dalam ranah ekonomi, politik, social, hukum, budaya,
pendidikan, dan seluruh ranah kehidupan. Dan perjuangan menuju keadilan
universal itu harus dilaksanakan melalui usaha sungguh-sungguh, bukan sekadar
menunggu anugeah dan pemberian turun dari langit.
Alur
Perjalanan Aswaja Dalam GeoSosPol Global
Perjalanan
Aswaja dalam kurun waktu sejarah peradaban masyarakat muslim tidak selamanya
mulus. Meskipun dirinya hadir sebagai pemahaman keislaman yang paling sesuai
dengan ajaran dan tuntunan Nabi serta para sahabat, Aswaja juga sering
melenceng dari arus utamanya, ketika terjadi perselingkuhan dengan kekuasaan,
baik secara politik maupun ekonomi.
Secara
singkat, kita akan melihatnya dalam table berikut;
No
|
Periode
|
Momen
Sejarah
|
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
|
Abu Bakar
Umar Bin Khattab
Utsman Bin Affan
Ali Bin Abi Tholib
Bani Umayah
Bani Abbasiyah
Umayah Andalusia
Turki Utsmani
Kolonialisme
Akhir Turki Utsman
Pasca PD II
|
Di Dalam Negeri Abu Bakar Berhasil Menyatukan Umat
Islam, Setelah Menumpas Gerakan Nabi Palsu Dan Kaum Murtad. Dalam Hubungan
Luar Negeri, Penyerangan Terhadap Basis-Basis Penting Romawi Dan Persia
Dimulai.
Tata
Negara Madinah Dibakukan Berdasarkan Asas Syura – Persia Berhasil Ditaklukkan
– Romawi Diusir Dari Tanah Arab- Terjadi Pengkotakan Antara Arab Dan Non-Arab
– Wilayah Islam mencapai Cina dan Afrika Utara
Al-qur’an
dikondifikasi dalam mushaf Utsmani – embrio perpecahan mulai tampak –
pemerintah labil karena gejolak politik dan isu KKN – Armada maritim dibangun
Perang
Jamal – pemberontakan Mua’wiyah – arbitrase Shiffin memecah belah umat
menjadi tiga kelompok besar : Syi’ah, Khawarij, Murjiah – Abdullah bin Umar
mengkonsolidir gerakan awal Aswaja yang tidak memihak kepada pihak manapun
dan lebih memusatkan perhatian pada penyelamat sunnah – Akhir dari sistem
Syura.
Kembalinya
negara Klan atau dinasti Islam mencapai Andalusia dan Asia tengah –
madzhab-madzhab teologis bermunculan; terutama Qodariyah, Jabariyah, Murjiah
moderat dan Mu’tazilah – Aswaja belum terkonsep secara baku (Abu Hanifah)
Mu’tazilah
menjadi ideology Negara Mihnah dilancarkan terhadap beberapa Imam Aswaja,
termasuk Ahmad bin Hambal – Fiqih dan Ushul Fiqih Aswaja disistematisasi oleh
al-Syafi’ie, teologi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi, Sufi oleh al Junaid dan
Al-Ghazali – terjadi pertarungan antara doktrin aswaja dengan kalangan
filosof dan tasawuf falsafi – Kemajuan ilmu pengetahuan sebagai wujud dari
dialektika pemikiran – Perang Salib dimulai –
Kehancuran
Baghdad oleh Mongol menjadi awal penyebarannya umat beraliran Aswaja sampai
ke wilayah Nusantara.
Aswaja
menjadi madzhab dominan – kemajuan ilmu pengetahuan menjadi awal kebangkitan
Eropa – Aswaja berdialektika dengan fisafat dalam pemikiran Ibnu Rusyd dan
Ibnu ‘Arabi.
Aswaja
menjadi ideology negara dan sudah dianggap mapan – kesinambungan pemikiran
hanya terbatas pada syarah dan hasyiyah – Romawi berhasil
diruntuhkan – perang salib berakhir dengan kemenangan umat Islam – kekuatan
Syi’ah (safawi) berhasil dilumpuhkan – Mughal berdiri kokoh di India.
Masuknya
paham sekularisme – pusat peradaban mulai berpindap ke Eropa – Aswaja menjadi
basis perlawanan terhadap imperialisme – kekuatan kekuatan umat Islam kembali
terkonosolidir.
Lahirnya
turki muda yang membawea misi restrukturissi dan reinterpretasi Aswaja –
gerakan Wahabi lahir di Arabia-kekuatan Syi’ah terkonsolidir di Afrika urata
– Gagasan pan-Islamisme dicetuskan oleh al-Afghani – Abduh memperkenalkan
neo-Mu’tazilah – al-Ikhwan al-Muslimun muncul di Mesir sebagai perlawanan
terhadap Barat – Berakhirnya sistem kekhalifahan dan digantikan oleh
nasionalisme (nation-state) – Aswaja tidak lagi menjadi ideologi Negara.
Aswaja
sebagai madzhab keislaman paling dominan – diikuti usaha-usaha
kontekstualisasi aswaja di negara-negara Muslim-lahirnya negara Muslim
Pakistan yang berhaluan aswaja – kekuatan Syi’ah menguasai Iran – lahirnya
OKI namun hanya bersifat simbolik belaka.
|
Alur perjalanan Asawaja Dalam
Sejarah Nusantara (Ke-Indonesia-an)
Ada kesinambungan antara alur
GeoSosPol dengan sejarah Islam nusantara. Memang banyak perdebatan tentang awal
kedatangan Islam di Indonesia, ada yang berpendapat abad ke-8, ke-11, dan ke-13
m. Namun yang pasti tonggak kehadiran Islam di Indonesia sangat tergantung
kepada dua hal: pertama, Kesultanan Pasai di Aceh yang berdiri sekitar
abad ke-13, dan kedua, Wali Sanga di Jawa yang mulai hadir pada akhir
abad ke-15 bersamaan dengan runtuhnya Majapahit.
Namun, dalam perkembangan Islam selanjutnya, yang lebih berpengaruh
adalah Wali Sanga yang dakwah Islamnya tidak hanya terbatas di wilayah Jawa
saja, tetapi menggurita ke seluruh pelosok nusantara. Yang penting untuk
dicatat pula, semua sejarawan sepakat bahwa Wali Sanga-lah yang depan cukup
brilian mengkontekskan Aswaja dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, sehingga
lahirlah Aswaja yang khas Indonesia, NU .
NO
|
PERIODE
|
MOMEN SEJARAH
|
01
02
03
04
05
06
07
|
Islam wal pra- Wali Sanga
Wali Sanga
Pasca Wali Sanga – Kolonialisme
Eropa
Kelahiran NU
NU Pasca Kemerdekaan
NU pasca Khittah
NU Pasca reformasi
|
Masyarakat muslim bercorak
maritim-pedagang berbasis di wilayah pesisir – mendapat hak istimewa dari
kerajaan-kerajaan Hindu yang pengaruhnya semakin kecil – fleksibilitas
politik – dakwh dilancarkan kepada para elit penguasa setepat.
Konsolidasi kekuatan pedagan
muslim membentuk konsorsium bersama membidani berdirinya kerajaan Demak
dengan egalitarianisme Aswaja sebagai dasar Negara – sistem kasta secara
bertahap dihapus – Islamisasi dengan media kebudayaan – Tercipta asimilasi
dan pembauran Islam dengan budaya lokal bercorak Hindu-Budah – Usaha mengusir
Portugis gagal.
Penyatuan jawa oleh Trenggana
menyebabkan dikuasainya jalur laut Nusantara oleh Portugis – kekuatan Islam
masuk ke padalaman – kerajaan Mataram melahirkan corak baru Islam Nusantara
yang bersifat agraris-sinkretik – Mulai terbentuknya struktur masyarakat
feodal yang berkelindan dengan struktur kolonial mengembalikan struktur kasta
dengan gaya baru – kekuatan tradisionalis terpecah belah, banyak pesanten
yang menjadi miniatur kerajaan feudal – kekuatan orisinil aswaja hadir dalam
bentuk perlawanana agama rakyat dan perjuangan menentang penjajahan – Arus
Pembaruan Islam muncul di minangkabau melalui kaum Padri – Politik etis
melahirkan kalangan terpelajar pribumi – Ide nasionalisme mengemuka –
kekuatan islam mulai terkonsolidir dalam Sarekat Islam (SI). Muhammadiyah
berdiri sebagai basis muslim modernis.
Komite Hijaz sebagai embrio,
kekuatan modernis dengan paham wahabinya sebagai motivasi, SI tidak lagi
punya pengaruh besar, jaringan ulama’ tradisional dikonsolidir dengan
semangat meluruskan tuduhan tahayyul, bid’ah, dan khurafat, Qanu Asasi
disusun sebagai landasan organisasi NU, aswaja (tradisi0 sebagai basis
perlawanan terhadap kolonialisme, fatwa jihad mewarnai revolusi kemerdekaan.
NU menjadi partai politik, masuk
dalam aliansi Nasakom – GENERASI MUDA lahir sebagai underbow di wilayah
mahasiswa – Berada di brisan terdepan pemberantasan PKI – Ikut membidani
berdirinya orde baru – Ditelikung GOLKAR dan TNI pada pemilu 1971 – Deklarasi
Munarjati menandai independennya GENERASI MUDA – NU bergabung dengan PPP pada
pemilu 1977 – kekecewaan akan politik menumbuhkan kesadaran akan penyimpangan
terhadap Qanun Asasi dan perlunya Khittah.
Kembali menjadi organisasi
kemasyaratan – menerima Pancasila sebagai asas tunggal – Menjadi kekuatan
utama civil society di Indonesia – posisi vis a vis Negara – Bergabung dalam
aliansi nasional memulai reformasi menjatuhkan rezim orde baru.
Berdirinya PKB sebagai wadah
politik nahdliyyin – Naiknya Gus Dur sebagai presiden –
|
oleh Imam Hambali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar